Selasa, 28 September 2010

Ternyata banyak juga yang mau jadi guru??????


Marilah kita mengadakan survei imajiner. Subyek penelitiannya adalah seluruh siswa sekolah menengah favorit di seluruh Indonesia. Survei ini dirancang untuk mengetahui sepuluh profesi teratas yang ingin mereka lakoni di masa depan nanti. Hasilnya mudah ditebak, dari nomor urut satu sampai sembilan bisa kita bayangkan sederetan profesi seperti : dokter, sutradara, pengacara, notaris, public relation, atlet profesional, koki internasional, tentara, presenter, model, newscaster, polisi, bintang film, teknisi, psikolog, dll. Sedangkan profesi ‘guru’ mungkin baru akan muncul di urutan sepuluh atau bahkan tidak muncul sama sekali di daftar tersebut.
Gejala ini mungkin aneh tapi nyata. Ini merupakan suatu gambaran di mana rendahnya kualitas guru tidak hanya disebabkan oleh faktor elementer saja seperi kurikulum dan sistem pendidikan yang kacau, tapi ternyata penyebabnya adalah rangkaian efek domino yang berpengaruh pada citra negatif dan pencapaian yang tidak maksimal dari profesi tersebut. Siswa-siswa jaman sekarang bisa mencerna kenyataan dengan gamblang bahwa guru-guru yang mengajar mereka selama ini, memang secara ekonomi tidak terlalu membanggakan. Intinya bahwa menjadi seorang guru tidak identik dengan masa depan yang cerah dan menjanjikan di mata siswa-siswi tersebut. Dalam salah satu hitnya, Iwan Fals menggambarkan sosok seorang guru dengan karakter Oemar Bakrie yang mengendarai sepeda butut, kalang kabut dan gajinya selalu dikebiri. Jaman sudah berubah tapi image seorang guru tidak jauh-jauh dari sketsa tersebut, paling tidak itu yang tergambar di film-film dan sinetron-sinetron kita.
Input Menentukan Output
Siapa yang bertanggungjawab mencetak guru-guru berkualitas? Jawabannya tentu saja institusi-institusi keguruan. Walaupun kebanyakan dari institusi-institusi tersebut sudah berubah wajah, nama dan bentuknya, namun bisa dibilang esensi yang ada di dalamnya masih tetap senada, yaitu lembaga yang mencetak para calon guru. Kalau dilihat dari tren ada, kita bisa mereka-reka dari mana calon mahasiswa mereka berasal. Ada beberapa kategori lulusan SLTA yang pada akhirnya memilih untuk mengambil jurusan keguruan: (1) mereka yang sudah berusaha mati-matian untuk diterima di perguruan tinggi (PT) favorit tapi tidak diterima, (2) mereka yang berkeyakinan bahwa kuliah dimanapun tidak masalah, asal diterima di PT negeri, (3) mereka yang berasal dari keluarga yang turun-temurun adalah guru/pegawai negeri, dan (4) mereka yang dari awal mendaftar, tulus ikhlas ingin menjadi pendidik di masa depan.
Sayang seribu sayang, mereka yang berasal dari kategori (4) sangatlah minim jumlahnya. Kategori yang lebih mendominasi adalah kategori (1), (2) dan (3), yang mengindikasikan bahwa PT berbasis keguruan hanyalah menjadi final exit bagi para lulusan SLTA. Mungkin terdengar terlalu ekstrim, tapi test case berikut mungkin bisa menjadi renungan bagi kita bersama. Semisal, anda memiliki seorang putra yang sangat berbakat, lulus dari sebuah SMA unggulan dengan peringkat 10 besar, putra anda adalah bintang kelas sejak TK sampai SMA, nilai TOEFL putra anda mencapai 580 ke atas, pernah menjuarai berbagai kejuaraan tingkat regional, nasional bahkan internasional. Secara kebetulan, putra anda menyerahkan keputusan masa depannya di tangan anda. Sekarang, coba anda sebutkan lima nama perguruan tinggi yang muncul di benak anda yang menurut anda paling menjanjikan bagi kebaikan masa depan putra anda. Apakah institusi keguruan muncul di benak anda? Apabila tidak, maka mungkin hal itu wajar-wajar saja.
Guru Sebagai Frontliner Pendidikan Bangsa.
Negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat tidak pernah memandang sebelah mata masalah pendidikan. Apabila kita percaya bahwa pendidikan merupakan jalan keluar dari keterpurukan yang dihadapi bangsa ini maka kita harus memperbaiki kualitas guru yang ada sekarang maupun yang akan dicetak di masa depan. Langkah pemerintah dengan melakukan sertifikasi dan peningkatan kesejahteraan guru merupakan langkah awal yang sangat efektif apabila dibarengi dengan semangat individual guru untuk menjadi lebih kreatif, inovatif, independen dan inspiring.
Kita harus menyadari bahwa, ujung tombak pendidikan adalah guru. Guru adalah tokoh yang ‘menguasai’ waktu putra-putri kita selama delapan jam sehari, lima hari seminggu. Bukankah akan lebih baik jika tokoh tersebut menjadi tokoh jagoan yang diidamkan oleh para penontonnya. Sudah saatnya, guru berubah dari sosok yang jadul, konvensional, galak, kolot dan sok tahu menjadi sosok yang demokratis, melek teknologi, modis dan karismatis. Tak ada salahnya guru jaman sekarang mengajar menggunakan proyektor dan laptop serta gadget elektronik terbaru dan di saat-saat tertentu mengenakan pakaian dan aksesoris yang fashionable, trendy namun tetap bersahaja. Guru ekonomi mengajak siswanya ke bursa saham, guru biologi mengajak siswanya berwisata agrobisnis, guru sejarah mengajak siswanya bertualang menggunakan lokomotif antik, guru bahasa Inggris mengajak siswanya menjadi tour guide, dan seterusnya sehingga guru tidak hanya dianggap makhluk yang tenggelam dalam lautan teori.
Harapan di Masa Depan
Semua yang disampaikan di atas dapat dirangkum sebagai sebuah upaya untuk mengubah pencitraan guru. Sehingga di masa depan, putra-putri terbaik bangsa berbondong-bondong tanpa ragu-ragu membulatkan tekad menentukan pilihan untuk berkarir sebagai pendidik. Tanpa adanya perubahan citra guru, maka lingkaran setan yang sudah ada tidak akan pernah terputus. Mulai sekarang, institusi keguruan harus berlomba-lomba untuk mendapatkan input terbaik melalui program beasiswa, kelas khusus bagi siswa berprestasi, pertukaran pelajar dan usaha-usaha lain yang bisa mendongkrak minat siswa-siswa unggulan agar tergerak hatinya menuntut ilmu di PT berbasis keguruan.
Suatu saat nanti, survei imajiner yang sama akan kita lakukan. Mari kita berharap dan berdoa agar hasilnya bisa berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar